Ketika mulut sulit berkata dengan pasti.. Biarkanlah jemari menulis isi hatinya sendiri..
Minggu, 25 Desember 2011
Panorama palsu gadis belia
Malam itu aku melihat seorang wanita berjalan dengan tatapan kosong, lagi - lagi rasa penasaranku selalu membuatku ingin terus memandangnya. panggil saja Indah, untuk keindahan parasnya, lengkungan mancung hidungnya, dan mata kosong yang bulat dan berwarna coklat. ku dekati, dan ku tanya perlahan tentang apa yang ia alami. "aku juga gadis seusiamu, boleh aku tau permasalahan apa yang kau hadapi? cinta? atau kawan?" ku beranikan diri duduk disampingnya dan sedikit menoleh kearahnya. gadis itu menghela nafas dan tak sadar mengucurkan tetes demi tetes air matanya "aku baik - baik saja, jika kau lihat dari pakaianku dan keadaanku di masa sekarang" "lalu apa yang membuatmu penuh pilu seperti ini?" "sudah aku katakan, aku baik - baik saja, jika kau lihat dengan mata polosmu aku yang berada di depanmu sekarang, tapi sayangnya masa lalu dan masa depanku sungguh tidak baik - baik saja" gadis itu menelan ludah dan mencoba mengusap air matanya. "Boleh ku tau apa yang sebenarnya terjadi padamu?" "Aku mencintai seorang pria, dan aku tidak bisa membodohi diri, hingga saat ini aku masih tersenyum bila ingat masa - masa pertama aku mengenalnya, dan hingga hari ini aku tetap mencintainya" "lalu apa yang membuatmu sepilu ini jika kau bahagia dengan cintamu untuk pria itu?" "Aku bahagia bisa mencintainya dan bisa bersamanya, sampai - sampai aku lupa, menggadaikan segala cara untuk membeli kebahagiaan itu, dan sayangnya apa yang aku gadaikan tidak kembali dan pria itu sedikit demi sedikit mulai melangkah pergi". "Aku mengerti, sangat mengerti sekarang apa yang sebenarnya engkau alami" tuturku denga keyakinan mendalam, sembari ku ambil tissue dan tak segan memberikannya pada Indah. "Lalu apa yang akan kau lakukan untuk masa sekarang dan masa depanmu nanti?" gadis itu kembali menghela nafas, kebingungan, kesakitan, bahkan kemuakan sudah terpancar di paras cantiknya yang sudah memilu. "Aku harus bangkit, demi ibuku, demi apa yang telah aku jalani selama ini, ku anggap saja pria itu telah mati", "Lalu? apa kau tidak ingin hidup berdua?" "Tidak" gadis itu menundukan kepalanya "Aku ingin hidup sendiri dan memendam apa yang telah kualami bersama pria yang telah ku anggap mati" gadis itu mulai tersenyum dan menatapku dengan penuh pengertian. "Percayalah, kau tetap mendapat kasih sayang-Nya, anggap saja dia mati dan kau akan tau hidupmu lebih berarti daripada pria yang meninggalkan seorang gadis tanpa harga diri" Ia menghilang dan melambaikan tangan mulusnya, terima kasih Indah.
Selasa, 20 Desember 2011
Kami Manusia Melarat
hey bung! coba anda buka sedikit kaca hitam pekat yang mereka bilang anti peluru
coba anda lihat betapa asiknya plastik - plastik berserakan diantara himpitan trotoar jalan
coba anda dengar suara - suara tak merdu, yang bergeliat diantara himpitan manusia didalam bis kota
dan coba anda perhatikan, nasib saya dan mereka....
hey bung! anda bisa pergi kemana saja, pulau mana saja, membeli apa saja, mengunci rapat - rapat brankas untuk cucu anak anda
anda bisa tidur nyaman diatas kasur emas, melayang bersama mimpi kotor atas segala keserakahan anda
hey bung!kapan terakhir kali anda memakan daging yang katanya produk asli cap luar negeri dan segala makanan nikmat dan sehat?
5 menit yang lalu kah? 10 menit yang lalu kah? dengan mudah anda melahap semuanya
lalu bagaimana dengan mereka?
yang duduk melamun diatas trotoar berkumpul berdua, bertiga, bahkan berlima untuk satu bungkus nasi dengan lauk yang alakadarnya
anda bisa menyekolahkan anak cucu ana, ke negara manapun yang mereka suka
lalu kami?
tergopoh - gopoh ingin mendapat pendidikan layak
ibu kami merelakan ribuan keringat menetes perdetiknya
mana hak kami sebagai rakyat anda?
yang katanya ADIL, MAKMUR, SEJAHTERA???
sebenarnya kemunafikan apa yang anda sembunyikan terhadap kami!
rakyat jelata..
REZA, 20 DESEMBER 2011
coba anda lihat betapa asiknya plastik - plastik berserakan diantara himpitan trotoar jalan
coba anda dengar suara - suara tak merdu, yang bergeliat diantara himpitan manusia didalam bis kota
dan coba anda perhatikan, nasib saya dan mereka....
hey bung! anda bisa pergi kemana saja, pulau mana saja, membeli apa saja, mengunci rapat - rapat brankas untuk cucu anak anda
anda bisa tidur nyaman diatas kasur emas, melayang bersama mimpi kotor atas segala keserakahan anda
hey bung!kapan terakhir kali anda memakan daging yang katanya produk asli cap luar negeri dan segala makanan nikmat dan sehat?
5 menit yang lalu kah? 10 menit yang lalu kah? dengan mudah anda melahap semuanya
lalu bagaimana dengan mereka?
yang duduk melamun diatas trotoar berkumpul berdua, bertiga, bahkan berlima untuk satu bungkus nasi dengan lauk yang alakadarnya
anda bisa menyekolahkan anak cucu ana, ke negara manapun yang mereka suka
lalu kami?
tergopoh - gopoh ingin mendapat pendidikan layak
ibu kami merelakan ribuan keringat menetes perdetiknya
mana hak kami sebagai rakyat anda?
yang katanya ADIL, MAKMUR, SEJAHTERA???
sebenarnya kemunafikan apa yang anda sembunyikan terhadap kami!
rakyat jelata..
REZA, 20 DESEMBER 2011
Antara hina dan guna
Aku hidup 19 tahun lamanya
Diatas jalan - jalan aspal yang makin mengeras dibawah terik panas
Diantara angin - angin yang mampu menerpa seketika dan aku terombang - ambing bak ilalang
aku tak mengerti, aku tak mampu membaca apa yang ku jalani kini
Aku tak mampu seperti Aristoteles yang selalu mempelajari apapunhal baru yang ia temui
atau bakan seperti Plato yang menyempurnakan kembali hal - hal yang ia dapat dari gurunya Aristoteles
lalu..
apa kemahiran dalam diriku?
apa esensiku untuk duniaku,negaraku,bangsaku,keluargaku, dan teman - temanku??
aku selalu membayangkan indahnya masa dewasa dan nikmatnya masa tua
kekonyolan bayangan bisa menjadi sebuah pemicu integritas konkret di masa tua
tapi bibsa menjadi sesuatu yang sia - sia dan tak berdaya guna
bukan hina, tak perlu pula memaksakan berguna
coba resapi dan maknai sejuknya embun dipagi hari
harapan itu nyata selama, aku, engkau, kita, dan mereka terus berlari
Reza, 20 Desember 2011
Diatas jalan - jalan aspal yang makin mengeras dibawah terik panas
Diantara angin - angin yang mampu menerpa seketika dan aku terombang - ambing bak ilalang
aku tak mengerti, aku tak mampu membaca apa yang ku jalani kini
Aku tak mampu seperti Aristoteles yang selalu mempelajari apapunhal baru yang ia temui
atau bakan seperti Plato yang menyempurnakan kembali hal - hal yang ia dapat dari gurunya Aristoteles
lalu..
apa kemahiran dalam diriku?
apa esensiku untuk duniaku,negaraku,bangsaku,keluargaku, dan teman - temanku??
aku selalu membayangkan indahnya masa dewasa dan nikmatnya masa tua
kekonyolan bayangan bisa menjadi sebuah pemicu integritas konkret di masa tua
tapi bibsa menjadi sesuatu yang sia - sia dan tak berdaya guna
bukan hina, tak perlu pula memaksakan berguna
coba resapi dan maknai sejuknya embun dipagi hari
harapan itu nyata selama, aku, engkau, kita, dan mereka terus berlari
Reza, 20 Desember 2011
Sabtu, 17 Desember 2011
Jika Tuhan
Jika Tuhan itu pemurka, mungkin aku adalah orang yang dimurkainya karena terlalu banyak mengeluh padanya
Jika Tuhan itu pembenci, mungkin aku orang yang pertama dibencinya karena terlalu banyak mengingkari segala amalan - amalan yang diperintahkannya
Tapi..
Tuhan memang makhluk paling sempurna, selalu memberi ampun dan maaf
Tuhan memang maha bijaksana, selalu memberi mudah setelah susah
Tuhan memang penyayang, selalu memberi suka setelah duka
Dan Tuhan..
terkadang aku merasa hina menjadi umatMu
aku terlalu kotor, terlalu munafik..
terlalu mudah menyerah, terlalu terlena dan ambisius akan kesenangan dunia semata
apa gunanya aku ada didunia ini tuhan?
ya TUhan,, yang maha segalanya..
tiada doa yang selalu aku panjatkan kepadamu..
berilah kelancaran dan segala hal yang terbaik untuk ibu, ayah, kakak, dan semua orang yang hamba sayang.
berikanlah hamba kekuatan untuk selalu menjadi hambamu, dan berilah hamba kelancaran disegala urusan yang hamba lalui di dunia ini :)
Jika Tuhan itu pembenci, mungkin aku orang yang pertama dibencinya karena terlalu banyak mengingkari segala amalan - amalan yang diperintahkannya
Tapi..
Tuhan memang makhluk paling sempurna, selalu memberi ampun dan maaf
Tuhan memang maha bijaksana, selalu memberi mudah setelah susah
Tuhan memang penyayang, selalu memberi suka setelah duka
Dan Tuhan..
terkadang aku merasa hina menjadi umatMu
aku terlalu kotor, terlalu munafik..
terlalu mudah menyerah, terlalu terlena dan ambisius akan kesenangan dunia semata
apa gunanya aku ada didunia ini tuhan?
ya TUhan,, yang maha segalanya..
tiada doa yang selalu aku panjatkan kepadamu..
berilah kelancaran dan segala hal yang terbaik untuk ibu, ayah, kakak, dan semua orang yang hamba sayang.
berikanlah hamba kekuatan untuk selalu menjadi hambamu, dan berilah hamba kelancaran disegala urusan yang hamba lalui di dunia ini :)
Kamis, 15 Desember 2011
Aku dan tugas - tugas yang memusingkan
Gue bener - bener kalut sama kuliah semester ini, bahkan kadang kakla ngerasanya pesimis banget buat dapet nilai sebagus semester kemarin.
Tugas - tugas yang menumpuk, aktivitas yang padat, dan pengeluaran yang memuncak kadang bikin semangat gue runtuh bak di terjang tsunami.
Gue rasanya pengen nyerah, terlebih ketika keuangan menipis, ortu yg mengeluh.
Entah kenapa menurut gue pendidikan sekarang kejam, terlalu banyak aktivitas yang sebenarnya gaterlalu berkesinambungan malah dijadi - jadikan.
Hah rasanya lelah bener - bener lelah, semoga allah memberi imbalan yg baik akan usaha selama ini
Tugas - tugas yang menumpuk, aktivitas yang padat, dan pengeluaran yang memuncak kadang bikin semangat gue runtuh bak di terjang tsunami.
Gue rasanya pengen nyerah, terlebih ketika keuangan menipis, ortu yg mengeluh.
Entah kenapa menurut gue pendidikan sekarang kejam, terlalu banyak aktivitas yang sebenarnya gaterlalu berkesinambungan malah dijadi - jadikan.
Hah rasanya lelah bener - bener lelah, semoga allah memberi imbalan yg baik akan usaha selama ini
Sabtu, 10 Desember 2011
Papah untuk Mira
“Papah Untuk Mira”
Setiap orang pasti punya satu bahkan beberapa penyesalan atas apa yang dilakukan dihidupnya, dan lagi kenyataan yang harus diterima kadang penyesalan itu sama sekali tidak berguna dan mampu mengembalikan sesuatu.
Sore itu gadis berperawakan kecil duduk didepan rumahnya, ditemani sebuah buku dan semilir angin lembab dari udara Jakarta. Sesekali matanya menengok ke arah jendela, melihat sang ibu yang asik dengan mesin jahitnya. Memang tabiat seorang anak yang sangat manusiawi selalu balik menggerutu jika sang ibu menggerutu kepadanya. Langit mulai gelap, Mira sebut saja namanya masuk dan menghidupkan lampu luar. Kemudian dia kembali duduk diteras mungil itu, selintas melihat wajah ibu, dia kembali teringat masa kecilnya ketika dia digendong ibu ke puskesmas karena suhu badan yang tinggi. Air matanya menetes dengan ringannya, teringat perjuangan ibu yang semenjak kecil membanting tulang untuk dia dan seluruh kakak – kakaknya. Ingatannya langsung memutar kembali ke masa – masa kecil yang kadang bahagia dan pilu.
Ibu selalu datang malam, diantar ojek yang kian hari akrab dengannya karena sering ditumpangi. Suara bising motor mulai terdengar, dan Mira kecil bergegas menjauh dari jendela dan berpura – pura tidur menanti ibunya masuk kamar. “Mana Mira Don?” terdengar suara ibu Mardiyah menyapa kakak Mira. “Dikamar bu lagi tidur!” kak Dion yang tengah asyik dengan gitar kesayangannya. “Mira sayang” bu Mardiyah mengecup kening Mira dan memeluk hangat anak bungsunya itu. Mira kecil begitu bahagia, betapa rindunya dia pada sang ibu hingga terkadang dia merengek meminta Dion mengantarkan ke Jakarta yang dia sendiri tidak tau seberapa jauh jaraknya dari kota kecil itu. Pagi itu ibu Mardiyah membangunkan Mira kecil, didandaninya Mira hingga begitu manis dengan rambut kuda poninya. “Kita mau kemana bu?” Mira kecil bertanya dengan polosnya. “Kita mau jalan – jalan sayang”. Pagi itu hujan rintik – rintik membuat kota terlihat mendung, bu Mardiyah dan Mira berdiri dipojokan toko dipinggir jalan. Sosok pria berjaket kulit hitam dengan motor bebek langsung menghampiri, seketika Mira kecil terlihat bingung melihat ibunya yang bersalaman pada pria itu bak pada ayahnya yang dirumah, “De, ini papah ayo salaman dulu” bu Mardiyah berkata dengan tenang, Mira kecil tercengang dan hanya bisa diam ketika orang yang harus dipanggilnya papah itu mencium keningnya.
Karnaval yang cukup menyenangkan untuk anak kecil dengan sebuah harum manis yang dibelikan pria itu, begitu bahagia Mira ketika mereka menaiki sebuah kincir dan menonton acrobat motor. Malam sudah menjelang, hari yang indah untuk mira terlewatkan. Tiba mereka disebuah hotel yang sederhana, mungkin untuk kelas menengah. Mira kecil yang polos mempunyai rasa bingung “Kenapa gak pulang kerumah ya?, kenapa sama om ini terus?” “Mira kita bobo disini ya sama papah. Mira berada di tengah antara papah dan bu Mardiyah, Mira kecil sudah mengerti rupanya, dia tak ingin ibunya didekati pria tak dikenalnya. Namun seiring berjalannya waktu Mira mulai terbiasa dengan acara jalan – jalannya dengan pria yang kini disebutnya papah itu. Siang itu dirumah bu Mardiyah terdengar cekcok yang cukup dahsyat, Mira yang terlelap tidur segera dibangunkan ibu tercintanya, mereka pergi dengan tergesa – gesa. Ibu Mardiyah mengajaknya ke suatu rumah dimana orang – orang ramah ada didalamnya, seperti biasa papah datang dengan membawa sebuah dus panjang. “Mira” papah langsung masuk dan mencari – cari Mira kecil kesayangannya, “Mira ini hadiah buat Mira” “Wah lucu ya” Mira kecil begitu bahagia, papah membelikanya sebuah keyboard kecil untuk mainannya, memang papah cukup berandil juga dalam dunia musik dan dia seorang keyboardis. Umurnya terpaut beberapa tahun lebih muda dari ibu Mardiyah, tapi perhatiannya melebihi ayahnya yang berada dirumahnya. Seperti biasa mereka pergi lagi kesebuah hotel dan Mira kecil sangat menyukai roti bakar yang disediakan hotel setiap pagi. “Mira kalo udah gede sekolahnya harus dapet yang bagus ya” Bu Mardiyah dan papah tersenyum melihat Mia yang bermain – main dengan keyboard dan bonekanya. Beberapa hari mencari akhirnya mereka tinggal bersama di sebuah perumahan. Mira cukup bahagia tinggal disana, Mira kecil mendapat dua orang teman baik yang mau mengajaknya bermain, Mira menikmati hari –harinya disana. Namun, ketika malam hari ia tetap selalu gelisah ketika tangan papah mencoba memeluknya dan bu Mardiyah. Disana mereka punya tetangga yang cukup baik, seorang ayah ibu dan anak perempuannya yang seumur dengan kakak Mira, panggil saja Tania. “Mira cantik ikut kakak jalan – jalan yu?” “Kemana ka?” “Kita ke mall” “Asik ayo mau” “Tapi Mira pake kacamata yah? Supaya keluarga Mira gak ada yang tau itu Mira” “Heuh? Iya ka” Mira kecil tercengang. Mira bahagia dengan lingkungan yang ramah dan membuatnya nyaman. Namun tragedy besar datang. Malam – malam sekali 3 hingga 4 mobil menjemput Mira dan bu Mardiyah, ternyata ada ayah Mira disana. Ketika sampai dirumah, Mira langsung dipeluk kakak perempuannya, dan terdengar suara ricuh diruang depan rumah. “Mira dari mana aja sayang, Mira baik – baik aja? Mira itu diculik sayang” Mira tercengang dengan kata – kata culik yang dikeluarkan kakaknya, Mira merasa selama beberapa bulan disana dia bahagia, dia baik – baik saja, bahkan mendapat teman bermain.
Masa – masa kebersamaan yang lekat berlalu begitu saja, bu Mardiyah kembali dengan rutinitasnya pulang - pergi ke Jakarta, dan Mira kecil harus menahan diri untuk tidak terlalu merindukan ibunya. Terkadang Mira selalu diajak bu Mardiyah untuk bertemu dengan papah yang tentu kini sangat rahasia, papah selalu bertanya perkembangan Mira. Namun kali ini bu Mardiyah tampak serius berbicara pada papah “Boy, kamu cari wanita yang lain, yang bisa kamu jadikan istri, yang orang tuamu restui. Aku gak bisa kalau terus berhubungan begini denganmu. Aku sudah capek boy, sekarang kita jalani hidup kita masing – masing. Aku mau tidak mau harus kembali dengan suami dan anak – anakku, aku tidak mau terus berkonflik dengan keluargaku dan sudah cukup dengan pembicaraan orang” “IYa tapi ga semudah itu mencari pasangan lain, susah buat saya” “Sudahlah boy, mungkin ini yang terakhir kita ketemu, jalani hidup kita masing – masing”. Akhirnya papah pergi dengan raut wajah kecewa “Mira sayang, baik – baik ya, nanti jadi anak yang baik dan pinter kalo udah gede, jagain mamah” Mira tersenyum membalas pesan papah.
Pertemuan itu benar – benar menjadi sebuah pertemuan yang terakhir, bu Mardiyah harus kembali dengan keluarga dan suami yang sebenarnya tidak dia cintainya. Sesekali Mira selalu jadi sasaran marah ayah ketika dia teringat apa yang dilakukan bu Mardiyah dan papah. Mira hanya bisa bersedih dan ketakutan, beruntung Bang Dion dan Bang Ari selalu menemani dan mau menghibur Mira kecil ketika dia menangis dan ketakutan.
Hingga akhirnya Mira beranjak dewasa, dan selalu tak kuasa menahan tanda Tanya ketika dia teringat masa – masa dulu itu. Ketika bu Mardiyah duduk dikamar Mira menghampirinya dan bertanya dengan polosnya “Bu? Aku ini anak siapa?” serentak bu Mardiyah mengeluarkan air mata, dan berkata”Sudah jangan bertanya seperti itu, yang jelas Mira jangan kaya mama ya sayang” bu Mardiyah memeluk Mira, dan sepertinya Mira sudah cukup mengerti atas jawaban yang tersirat dari sang ibu.
“Mir, Mira!” panggilan bu Mardiyah membuyarkan lamunanya tadi, segera ia menghapus air mata dan datang menghampiri ibunya. “Mir tolong pasangin jarum, ibu gak keliatan” “Iya bu”. Setelah itu Mira bergegas masuk dan merapihkan kembali buku – bukunya, dalam hatinya ia berkata “Seburuk apapun yang dia lakukan dulu ya Tuhanku, aku amat menyayanginya, aku tidak mau kehilangan dan melihat ia sedih dan merasa terkekang, aku ingin suatu hari mampu membahagiakannya”.
Romansa Kembali
ROMANSA KEMBALI
Tami hanya bisa menyendiri dikamarnya menangis dan menyesali hubungannya dengan Rey kini . Dalam Hatinya dia berkata “Sebodoh ini kah saya tuhan ! hingga semua harus berakhir secepat ini” .
Dia hanya terus menjungkir balikan handphone yang ada digenggamannya , berharap ada satu pesan saja yang Rey kirim untuknya . Hingga akhirnya dia tertidur lelap walau dengan sedikit airmata yang mengalir dan menemani tidurnya .
Pagi ini raut mukanya begitu kusut seperti hilang gairah hidup , ”Mah Tami berangkat kuliah !” Wajah muramnya itu berpamitan pada sosok ibu yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya . Tak henti – hentinya dia melamun didalam bis kota sesekali wajahnya sudah terlihat sangat tidak kuat menahan tangis dan teriakan yang memang ingin dia keluarkan . ”Tam, kamu yang sabar ya ! mungkin ini emang jalan terbaik buat kamu sama Ray!” Indah menenangkan Tami yang memang sangat terlihat down . ”Iya Tam jadiin pelajaran aja buat sekarang mungkin ini terbaik buat Rey walaupun emang belum bisa dibilang terbaik buat kamu ” Irena menambahkan . ” Iya aku gak apa – apa kok Cuma ya sedikit sedih dan sakit hati masih wajarkan ” Tami akhirnya menyaut dengan lemahnya . ”iya wajar kok , kalo kamu mau nangis ya nangis aja kalo emang itu bisa bikin kamu lega ! sakit hati itu pasti ada lah tapi gak baik juga kalo kamu terus – terusan gini !” ”iya ren makasih supportnya , aku udah ngerasa sedikit lega ada kalian juga !” . Dan obrolan pun terus berlanjut sesekali Tami tak kuasa menahan air mata yang keluar sambil bercerita tentang keluh kesah dan tanda tanya besar di hatinya itu . Sepanjang hari nya di kampus dia tidak bisa melepaskan pikirannya dari permasalahannya itu, memang cukup menguras tenaga dan hati nya. Betapa tidak ? kebersamaannya dengan Rey bukan dalam waktu yang singkat. Satu tahun lebih mereka bersama – sama dan tentunya banyak kisah yang mungkin berat untuk dilupakan. Itu yang semakin menambah sesak dadanya, terlebih dia hanya seorang perempuan, berbeda dengan lelaki yang terkadang egoistis.
”Udah pulang tam? Makan dulu sana” Mama menyaut Tami yang sudah terlihat didepan tv, ”iya ma!” hanya itu yang keluar dari mulutnya dan bergegas pergi menyendiri lagi di kamarnya. Dan apa yang ditunggu – tunggunya itu datang Rey datang mengabari lewat sms ”Maaf tam” hanya itu sms yang diterima. Segera Tami membalasnya ” gak apa – apa ” sedikit munafik memang dengan kenyataan hatinya yang sudah seperti gelas pecah yang berhamburan. ”Kamu pasti bisa dapet yg lebih baik dari aku” Rey membalas dan obrolan di sms itu terus berlanjut . ”Ga segampang yang kamu fikir! Buat aku ngelupain kamu itu susah” ”Kenapa susah? Aku juga bisa kok! Lama – lama juga pasti kamu lupa” ”emang segampang itu ya buat kamu ngelupain apa yang udah kita jalani setaun ini?” ”Iya maav tam aku udah lupa semuanya, aku jenuh pacaran sama kamu!”. Tami benar – benar tak kuasa menahan tangisnya betapa mirisnya nasib dia , dengan kata – kata Rey yang memang terdengar begitu kejam. Teman – teman dekatnya berusaha mengihiburnya dengan menemaninya walaupun hanya lewat berkirim pesan di sms dan facebook.
Hati Tami mungkin sudah mulai sedikit tenang dan bagusnya lagi dia bisa pulang ke Kota Bandung, tentu saja Tami gembira karena disana dia bisa bertemu Rey pujaan hatinya hingga saat ini. Dia masih berharap hubungannya masih bisa untuk dikembalikan, apalagi dengan sikap Rey yang mulai mencair. Malam itu Tami bergegas mengepak bajunya, ”Hati – hati ya tam dijalannya” Mama mengingatkan ”Iya ma, Tami pergi assalamualaikum” ”Waalaikumsalam” begitu tenang sosok mama menjawab sambil memandangi Tami yang mulai beranjak hilang dari pandangannya.
Akhirnya dia sampai di kota tercintanya itu, ayah nya begitu setia menunggu untuk menjemput Tami. Memang dingin udara di kota ini , namun tetap semangat menginjakan kaki nya di kota ini. Ia tidur hingga matahari menjelang siang menghampiri jendela kamarnya, ”Hey” itu pesan yang Tami dapatkan dari Rey. Begitu semangat Tami membalasnya dan hingga akhirnya Rey mengajak Tami bertemu. Senangnya Hati Tami saat itu. Hingga akhirnya Tami bergegas bersiap – siap untuk bertemu pujaan hatinya itu. ” Mau kemana de? ” Ayah memanggil dari arah dapur ” Pergi yah! ” ”jangan kemaleman ya pulangnya” ”iya!”.
Tami berdiri dengan setianya menunggu Rey dan akhirnya dia datang bersama motor maticnya yang terrlihat begitu klasik. ”mau pergi kemana?” Rey bertanya dan melempar senyum ”Terserah” Tami sedikit bingung karena terkesima oleh rasa gembiranya bertemu Rey walau kenyataannya kini mereka sudah menjadi teman biasa. ”kita cari makan dulu aja yu?” Rey bertanya, ”Iya ayo” .
Mereka pun sampai di sebuah cafe kecil yang memang terlihat sedeharna, tapi itu memang kebiasaan mereka selama berpacaran mengelilingi kota Bandung untuk berwisata kuliner, dan faktanya setelah berpisah mereka masih jalan bersama seperti sekarang. Keinginan terbesar dalam hati kecil Tami itu masih sangat besar, namun dia tidak kuasa untuk merangkai kata – kata terhadap Rey. ”Kita udah putus tapi kaya yang masih pacaran ya?” Rey dengan polosnya berkomentar ”hmmm” Tami hanya tersenyum.
Hari – hari mungkin berlalu terlalu cepat bagi seorang Tami, karena dibeberapa hari itu dia tidak mampu juga mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Rey, sungguh miris sekali. Hingga hari terakhirnya di kota itu pun telah tiba, ”Tam bangun siang!” seperti biasa ayah yang selalu mengoceh begitu ”Iya yah” Tami bergegas bangun dari tempat tidurnya. Pagi itu hatinya memang cukup merasa sedih apalagi kenyataannya dia tidak bisa memperbaiki hubungannya bersama Rey.
Siangnya Tami mulai merasa jenuh berdiam diri dirumah, ”Don, maen yu?” Tapi mengirim sebuah pesan ”Maen kemana siang – siang gini ? ” Kemana aja lah” ”Okelah kerumah aja ya” ”sip lah”. Tami langsung mengambil tasnya dan bergegas pergi ke rumah Dony. Sesampainya disana Terlihat sosok pria yang berjalan dari arah dapur, ya siapa lagi kalau bukan Dony. ”ayo masuk!” ”ih belom mandi ya! Kusut banget tuh muka” ”hehehe, udah kok tadi ! mau kemana ini?” ”kita ke hutan pinus aja yu?” ”oh ayo deh kebetulan belum pernah kesana!” ”iya ganti celana dong masa pake kolor gitu!” ”hahaha, iya tenang masa pake ini”. Dan mereka pun pergi menuju hutan pinus tempat yang sedikit sejuk dan mungkin nyaman untuk merenung dan menenangkan hati.
Dony mengendarai motor dengan begitu pelan dan hati – hatinya, sepanjang jalan mereka membicarakan berbagai hal, termasuk Farida kekasih Dony. Yah memang mereka belum lama ini jadian, jadi wangi – wangi bunga dalam hubungan mereka masih tercium. Tapi Tami beruntung karena Dony masih mau menemaninya dikala dirinya sedih. Dony menoleh ke kiri dan kanan yah untuk mencermati bagaimana pinus dan mulai mencoba menikmati suasananya. ”Sepi yah?” ”iya tapi kalo hari – hari weekend biasanya penuh! Udah kaya alun – alun aja bukan hutan lagi!” ”hahahah” Dony melempar senyum. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah untuk mencari tempat duduk yang nyaman yang memang beralaskan rumput hijau saja. Sebuah pohon besar dekat kandang kijang mereka mulai merebahkan badannya. Setelah sebelumnya mereka memandangi kijang – kijang sambil beriang canda. ”kamu sama si Rey itu sebenernya gimana sih?” Dony mulai membuka pembicaraan mengenai hubungan Rey dan Tami ”hmm, aku juga bingung! Dia bilang dia udah gak punya perasaan apa – apa sama aku Don! Tapi sikapnya dan omongannya masih ngeliatin dia peduli” ”Munafik si Rey! Padahal kalo dia emang masih mau lanjutin aja, tapi kalo emang udah ya jangan mainin kamu kaya gini dong!” ”iya gak tau lah, aku juga gak ngerti Don apa mau dia sebenarnya !”” ”ya udahlah,kamu sabar aja. Nanti juga dia bakal ngerasain bedanya hidup tanpa kamu” ”Ya mudah – mudahan aja si Don tapi kalo menurut aku , kemungkinan dia gitu tuh nihil banget” ” Ya intinya sabar dulu aja lah” ”hahaha iya Don!” akhirnya Tami bisa sedikit tertawa ketika bersama Dony.
Malam mulai menjelang dan Tami memang harus segera kembali kerumahnya, dia harus kembali ke rutinitasnya di Jakarta. Yah, sebenarnya itu membuat dia sangat sedih ditambah dengan sikap Rey yang membuat dia kecewa dan penuh air mata untuk hari ini. ”Nyesel gak ketemu kamu L” Rey mengirim sebuah pesan pada Tami, namun hati Tami sudah penuh kekesalan akibat sikap Rey tadi dan membalas dengan nada juteknya ”Kamu sendiri yang tadi nolak ketemu!” ”Yah tadi keburu bete sih” ”Ya udahlah udah lewat!” Tami membalasnya jutek. Tami menyiapkan barang – barang bawaanya dan diantar ayahnya menuju bis, yah memang terlihat perasaan yang berat di wajah Tami. Sepanjang perjalanan menuju bis, dia memandangi jalan dan suasana – suasana yang pasti akan sangat dia rindukan bersama kepedihan hatinya kini, dan air mata spontan keluar dari matanya. Ketika di bis dia mendapat pesan dari Rey dan Dony , yah tidak jauh hanya sekedar mengingatkan agar berhati – hati selama perjalanan. Sebenarnya Tami masih cukup beruntung dengan perhatian – perhatian Rey yang memang tidak terlalu berubah padanya, namun sayangnya Tami masih mengharapkan hubungannya berlangsung lama.
Dini hari Tami sampai dan di jemput abangnya Irwan, hawa panas Jakarta sangat terasa. ”Mau makan Tam?” Sesampainya dirumah Ibu Tami menyodorkan makanan – makanan yang ada, ”Ah engga mah , aku ngantuk” Tami bergegas menyimpan tas dan menjatuhkan badannya diranjang. Mungkin dia cukup lelah selama perjalanan dan yang paling melelahkan pikirannya yang tidak bisa menjauh dari Rey. Tami tidur terlelap ”Tam, bangun! Kuliah jam berapa” Ibu menggoyang – goyangkan badan Tami agar ia terbangun. ”Iya mah bentar lagi!”. Tami bergegas mandi dan bergegas pergi ke kampus, ”Ih Tami gue kangen! Kemana aja lo” Indah begitu riang menyambut kedatangan Tami ”Ha ha ha lebay ah!” Tami kini bisa sedikit senyum dengan suasan ramai di kampus ditambah dengan kenyamanan yang mulai dia rasakan dengan duni barunya itu. ”Gimana lo sama si Rey?” ”Hmmm masih belum bisa” ”Yah,, sabar aja ya Tam kalo jodo gak bakal kemana” Indah menjawab dengan nada sedikit menyesalkan, ”Ya udahlah In, gue juga udah ga terlalu ngarep lagi kok sekarang” ”Ya sukur deh kalo gitu! Tenang masih banyak yang bisa digebet” Indah mencoba menghibur ”hmm(tersenyum kecil)” Tami tidak bisa berkomentar apa – apa.
Dia mulai disibukan dengan aktivitas dan tugasnya yang semakin hari semakin menumpuk, namun setidaknya itu menjadi jalan yang bagus agar Tami bisa lebih mengalihkan perhatiannya dari kesedihan memikirkan hubungannya dengan Rey.
Ini memang suatu siklus yang sangat biasa dalam hidup, ketika Tami sudah mulai melupakan dan mengikhlaskan apa yang telah lepas dari tangannya, Rey datang dengan sejuta perhatiannya terhadap Tami. ”In si Rey ngontek gue lagi!” ”Ya bagus dong! Bukannya itu yang lo mau? ” Iya sih tapi kok gue malah jadi sedikit risih yah?” ”Ah itu cuman pikiran sesaat, lo jangan sia – siain kesempatan ini” ”Eum gitu, okelah! Thanks ya!” ”Yooo” dan akhirnya percakapan mereka di telepon berakhir. ”Lagi apa Tam?” ”Lagi ngerjain tugas! Kamu?” ”Lagi diem.hoho” Ya itulah segelintir sms Tami dan Rey.
Akhirnya Tami dan Rey mulai bisa membangun suasana seperti biasa kembali, walaupun kenyataanya semua itu belum sampai pada titik yang diinginkan Tami, yaitu kembali bersama.
Untuk kedua kalinya Tami pulang menuju Bandung untuk keperluannnya, dan dia memberitahukan Rey akan kepulangannya iu. Rey begitu antusias dan bahagia mendengar kepulangan Tami yang cukup lama. Dan Tami juga tidak bisa membohongi kebahagiaan hatinya kini, karena yang terfokus dalam otaknya yaitu bertemu dengan pujaan hatinya.
Malam itu dia membereskan baju dengan begitu semangatnya, ”Mau berangkat jam berapa de?” Ibu bertanya ”Besok pagi bu!” ”Oh hati – hati disana , irit – irit juga uangnya!” ”iya ah mama!”.
Pagi – pagi sekali Tami bangun, bergegas mandi dan menyantap masakan ibunya. Yah terlihat sekali semangatnya untuk segera pulang, ”Ayo de abang anterin! Awas lo kalo kesini bawain oleh – oleh” ”Ah iya bang cerewet lo!”.
Selama diperjalanan Tami dan Rey bercakap – cakap di sms yah keduanya memang sepertinya terlihat bahagia dengan kejadian ini. Karena kebahagiaan hatinya perjalanan tak dirasakannya dan sekarang dia sudah berada di kota tercintanya Bandung. Ayah sudah berdiri menyambut kedatangan Tami, ”Ada yang dibawa lagi?” ”Engga yah Cuma ini”. Sesampainya dikamar tercintanya Tami merebahkan badannya, yah memang cukup lelah walaupun perjalanan tidak terasa. ”Tam, besok mau nganter ga?” ”Kemana Rey?” ”Liat – liat aja sekalian jalan” ”Oh iya ayo deh”. Tami begitu bahagia dengan ajakan Rey.
Pagi pun menjelang Tami bangun dan membereskan bagian – bagian rumahnya, dia tetap tidak melupakan tugasnya sebagai seorang gadis. Setelah selesai, dia langsung membongkar isi lemari dan mencari kostum terbaik untuk jalan bersama Rey, yah hatinya terlihat sangat bahagia sekali. Siang itu Rey menjemput didepan rumah, Rey cukup terpesona melihat penampilan Tami ”Kamu cantik!” ”Ih apaan sih” ”Ih serius sumpah emang bener!” ”Ha ha ha Iya lah udah ah!” ”Ha ha ha, mau jalan kemana nih?” ”Yah terserah kamu aja”, Akhirnya Rey memutuskan mengajak Tami nonton, yah film yang tidak terlalu membosankan juga untuk Tami. Setelah itu Rey mengajak Tami makan, ”Hey jangan terlalu kurus gini! Makan yang banyak” Rey menunjukan perhatiannya ”Iya ah wew ini juga lagi masa pemulihan!” ”iya bagus!” Rey mendukung.
Diluar cuaca sangat mendukung dan mereka pergi dengan motor merah kesayangan Rey. Saat perjalanan pulang hujan turun begitu lebat ”Tam, kita neduh dulu aja ya?” ”Iya Rey ayo!” dan akhirnya mereka berhenti di sebuah toko yang kebetulan sedang tutup. ”Aduh Rey maaf yah kamu jadi hujan – hujanan gini gara – gara aku!” ”Ye biasa aja kali Tam kan aku yang ngajak!” ”Rey!” ”Apa?” ”Emang hubungan kita udah ga bisa tertolong lagi ya? ”Hmmmm” Rey menjawab dengan nada yang tidak jelas apa maknanya. Tapi mendudukan kepalanya dan sepertinya dia tidak kuasa menahan rasa sedih yang ada dihatinya ”Hey kenapa” Rey menggenggam tangan Tami, ”Engga kok” Tami mencoba menyangkal atas apa yang dirasakannya. ”Jangan bohong deh!” ”Engga!” Tami bersikeras. ”Kita jalani dulu aja lagi” tiba – tiba Rey melontarkan kata yang membingungkan Tami ”Maksud kamu?” ”Yah biasa lagi kaya sebelum – sebelum ini!?” ”Hah? Kita gak jadi putus?” ”Iyaaa” Rey menjawab dengan senyuman sambil mengelus kepala Tami. ”Aku gak tau mesti ngomong apa, aku bahagia!” ”Ha ha ha , ah gak usah lebay!” ”Iya deh” Akhirnya Tami bisa tersenyum dengan sangat bahagianya. Segera dia beritahukan kabar gembira itu pada teman – teman dekatnya, dan mereka pun sepertinya cukup gembira mendengar berita itu.
Tak terasa hari – harinya bersama Rey sudah harus berakhir, malam itu Tami harus berangkat kemabli ke Jakarta. ”Ya udah baik – baik yah disana!” ”Iya Rey, kamu juga jangan bandel disini” ”Iya sip tenang aja!” ”Hehe makasih ya!” ”Iya sama – sama, ya udah siapin dulu barang – barang sana ! nanti ada yang ketinggalan lagi!” ”Sip bos!” percakapan Rey dan Tami yang terlihat sangat harmonis.
Dan akhirnya Tami menjalankan kembali rutinitasnya dengan penuh semangat, yah tentu saja karena dukungan Rey yang selalu membuatnya tenang dan nyaman. Kini Tami hanya berharap Tidak ada lagi kejadian seperti mimpi buruk dihari kemarin.
ini sebagian puisi karya saya,,, mohon maaf masih pemula :D
Caraku
Kemarahanmu menjadi senyumanku
Kejengkelanmu membuat rasa bahagia untukku
Bukan, bukan maksudku bersuka ria atas kesalmu
Namun inilah cara ku , cara konyolku
Aku yang ingin semakin dekat denganmu
Aku yang mungkin haus dengan perhatianmu
Aku yang nyaman melihat gerai rambutmu
Dan aku yang teduh melihat indah matamu
Ku robek secarik kertas dalam tumpukan tebal itu
Ku lihat wajah marahmu yang justru ku inginkan darimu
Ku berikan tumpukan buku tebal di depanmu
Kau pun semakin bingung dengan tingkah aku yang mengagumimu
Buaian Kasih
Lembut tangannya menyentuh dengan halus
Memberi rasa dan aroma kasih sayang
Membuatku semakin ingin dan haus
Tatapan matanya dan lembut senyumnya yang membuatku kepayang
Dia bukan hanya bidadari sempurna yang Tuhan ciptakan
Tapi dibumbui seribu diam dan kesedarhanaan diri
Memancar bersinar seakan nampak berjuta kecantikan
Begitu indah dirimu yang sulit untuk ku dekati
Kesalahan itu memang kubuat sengaja
Mencuri waktu untuk bisa melihat tatapan matamu
Aku tidak ingin sadar bahwa aku sedang jatuh cinta
Biarlah waktu yang membuat aku dan kau menyatu
Naluri Polos
Didekatmu memang ku inginkan dan ku dambakan
Naluri ku yang memilih dan merasa nyaman disampingmu
Kau berbeda dengan yang lain kau penuh kesederhanaan
Perasaanku yang menggebu – gebu namanya pun aku tak tau
Aku hanya si anak mungil yang kagum pada teman sebaya
Aku hanya si anak mungil yang begitu senang melihat mata teduh itu
Aku hanya si anak mungil yang kehilangan cara untuk mencinta
Aku hanya si anak mungil yang mengungkapkan dengan rusuh
Lalu, apa kau mengerti?
Aku dengan segala kerusuhanku yang selalu membuatmu marah
Apa kau juga ketahui?
Aku bahagia ketika melihat rona pipi mu berubah menjadi merah
Nikmat Cinta Muda
Waktu tidak bisa ku katakan begitu singkat namun tidak juga lambat
Waktu yang melahirkan dan menyatukan perasaan yang datang sendiri
Begitu kuat, begitu ingin selalu dekat dengan hati yang di tambat
Dan hari demi hari kau lah yang terindah yang selalu menemani
Memang benar perasaan dua insan tidak memandang generasi
Karena cinta bukan hal yang begitu mudah di jabarkan
Perkataan mereka yang tua, aku sungguh tidak perduli
Karena cinta tidak hanya mereka yang bisa rasakan
Seperti nyiur yang melambai yang menenangkan
Bagaikan desiran ombak yang begitu menggenjolak
Dan hati ku yang berdebar – debar tak tertahankan
Batin yang tulus yang tak pernah mampu tuk mengelak
Karena mu
Alasanmu ingin di dekatku aku tak begitu mengerti
Mengapa kau senang membuatku merengutkan dahi aku pun bingung sendiri
Namun dalam sekejap detik kau pun ingin membuat aku bahagia
Berusaha bahkan mungkin hingga kau habis tenaga
Sungguh aku pun tidak tau rasa dan naluri ku
Aku luluh dalam marahku
Aku luluh dalam kesalku
Dan aku memang luluh karenamu
Memakimu untuk menutupi suka ku
Mengacuhkan mu untuk menutupi rasa
Dan aku terlena olehmu
Terbawa buai asmara dalam belia
Kuat Hampa
Bukannya aku membatu
Hanya saat ini, hampa lah yang menemani
Aku memang punya cinta sepertimu
Tapi untuk seseorang yang ingin ku temui
Nyata rasamu tak mampu menembus relung rindu
Rindu ku akan teman kecil yang membuai dan menenggelamkan ingatan
Untuk memberi rasa padamu, bukan ku tak ingin, hanya saja tak mampu
Aku roboh dalam atap kuat dan lelap dalam kepedihan ingatan
Masa lalu, masa kecil, dan masa yang abadi
Wajah manis dan senyum membuai masih membuatku kepayang
Sosok perempuan kecil yang begitu ku kasihi
Akan selalu menjadi memori yang indah untuk dikenang
Aroma Cinta sosok mu
Berapa pun oktaf suaramu meninggi aku tetap tahu akan ciri
Bagaimana pun rubah gaya rambutmu aku tetap mengenali
Waktu yang lama tak mampu membuatku lupa diri
Sosok wanita itu tetap ku ingat karena ku kasihi
Kelembutanmu masih sama seperti dahulu
Getaran dadaku saat disisimu masih begitu menggebu
Sekujur tubuh yang dengan hitungan detik menjadi kaku
Melihat sosokmu yang begitu aku rindu
Satu kata terucap membuat hempasan angin terasa kencang
Menyentuh badan dan hatiku dengan begitu tenang
Didalam mata dengan sendirinya semua terkenang
Batinku ingin merengkuhmu hingga tak pernah renggang
Melodi Rindu
Ku lihat ribuan pertanyaan dari pancar matamu
Ku terka ratusan rindu dari hangat pandangmu
Sedih dan pilu bila ku tau penantianmu
Tanpa penat kau tetap mengingatku
Engkau gadis kecil yang juga amat ku rindu
Mengatakan isi hati sampai saat ini ku tak mampu
Jika kau kira ada benci maka itu amat keliru
Hanya bisa ku simpan kenyataan pahit itu
Bukannya esok ku tak ingin melihat senyumu
Namun ada derita yang begitu membelenggu
Yang begitu kuat mencengkram akal dan pikirku
Sungguh tiada berdaya jiwa dan ragaku
Bertanya dalam Bisu
Begitu tidak berwarnakah aku dimatamu?
Sekeras itukah hatimu membatu?
Aku yang selalu mengelus punggungmu dikala lelahmu
Aku yang menyerahkan segenap jiwa dan ragaku untukmu
Mereka berkata hawa sepertiku indah bagai biola
Matanya mengerling tajam menatap seperti mangsanya
Puja – puji menyorotkan nafsu duniawi
Pada aku!, Gadis yang enggan kau jamahi
Kucoba meraih tanganmu untuk menggenggamku
Kau tangkis lagi sebelum sempat sampai raihanku
Lalu ku lihat raut wajahmu itu
Senyum datar bermakna mengacuhkanku
Gejolak Asa
Sorot matamu membuat semua buyar
Senandung bahagia serta rindu yang amat terpancar
Menepis rasa – rasa pilu yang lama hambar
Tumbuh kuat hingga begitu mengakar
Khilafku atau justru rasa nikmatku
Mengalun syahdu dengan kehangatan dalam sandaranmu
Dia yang kini ada disisiku
Sejenak masuk kedalam lembah hitamku
Bayangan indah masih selalu menuntun hatiku
Akan puluhan rindu yang lama bersemayam dalam tubuhku
Melupakan sosok baru yang kini tengah hadir dalam hidupku
Pergi perlahan – lahan dalam pikiranku bagai debu
Kepadamu
Kepadamu kuberikan beribu – ribu sajak rindu
Menantimu dan lembutnya elusan tanganmu
Detakan jantung beradu didalam lirih
Berharap dalam diam yang membuat perih
Cinta sepenuhnya kusandarkan dalam hatimu
Menanti engkau membalas tatapan rindu
Jauh kurasakan jarak diantara kita
Hingga tak kurasa ketulusan cinta
Betapa berharga seluruh sentuhan lembut
Nyaris hilang dan mudah untuk direnggut
Kekuatan rindu yang menjadi ribuan Tanya
Akankah tuhan mau menakdirkan cinta
Bahasa Hati yang Tersembunyi
Tidak ku pungkiri aku mempunyai seseorang disisiku kini
Begitu tulus mencurahkan kasih dan sayangnya
Namun, tak sanggup ku curahkan seisi hati
Mengatakan hatiku bukan untuknya
Kucoba lagi menikmati indah hadirnya
Namun yang terbayang hanya sosok gadis mungil yang ku kenal dulu
Bukan karena dia tidak seindah bunga mawar yang mekar setiap harinya
Tapi sosok itu yang mampu menggetarkan seluruh tubuhku
Jangan pandang aku dengan tatapan memelasmu
Sungguh aku tak sanggup untuk menyakiti
Selama ini kubiarkan kau mengisi harian hampaku
Namun tak bisa, kau ku kasihi
11 Desember
masih sulit buat ngerubah diri menjadi orang yang cuek dan gak peduli sama apa yang terjadi.
masih banyak kegelisahan dan ketakutan yang tersimpan sampe akhirnya malah jadi sugesti negatif..fiuuuuh
harapan bisa selalu bahagai sepertiii
tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii karena sugesti yang selalu buruk dan prasangka - prasangka terhadapnya yang selalu menyerang membabi buta dalam pikiran akhirnya justru.............
ternyata merubah pola pikir itu sama sulitnya dengan mengubah kebiasaan
sulit membuat diri lebih bermakna dan sulit menggali potensi hebat dalam diri
naifnya, 3/4 dari 1 bagian diri saya, selalu saya habiskan untuk memikirkan dia,,, yang entahlah memikirkan saya pula atau tidak...
Tuhan.... saya selalu berharap, apa yang dijalani sekarang bisa berkelanjutan sampe nanti
saya selalu berharap ada saat dimana dia benar - benar mengerti dan menghargai perasaan saya :)
Tuhan ... jaga selalu hatinya untuk saya, meskipun pertengkaran antara kami selalu menguji ketahanan hatinya :)
Tuhan... beritahu dia lewat bisikanMu bahwa aku sangat menyayanginya,, seperti aku menyayangi kedua orangtuaku. keluargaku dan teman - temanku...
masih banyak kegelisahan dan ketakutan yang tersimpan sampe akhirnya malah jadi sugesti negatif..fiuuuuh
harapan bisa selalu bahagai sepertiii
tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii karena sugesti yang selalu buruk dan prasangka - prasangka terhadapnya yang selalu menyerang membabi buta dalam pikiran akhirnya justru.............
ternyata merubah pola pikir itu sama sulitnya dengan mengubah kebiasaan
sulit membuat diri lebih bermakna dan sulit menggali potensi hebat dalam diri
naifnya, 3/4 dari 1 bagian diri saya, selalu saya habiskan untuk memikirkan dia,,, yang entahlah memikirkan saya pula atau tidak...
Tuhan.... saya selalu berharap, apa yang dijalani sekarang bisa berkelanjutan sampe nanti
saya selalu berharap ada saat dimana dia benar - benar mengerti dan menghargai perasaan saya :)
Tuhan ... jaga selalu hatinya untuk saya, meskipun pertengkaran antara kami selalu menguji ketahanan hatinya :)
Tuhan... beritahu dia lewat bisikanMu bahwa aku sangat menyayanginya,, seperti aku menyayangi kedua orangtuaku. keluargaku dan teman - temanku...
awal jemari menari indah
mungkin judulnya terkesan lebay yah u,u
berapa kali gue bikin blog gue lupa , dari semasa SMA blog gue entah ada berapa dan gue lupa passwordnya (menyedihkan)
okee :) hello para blogger, yang tentunya cinta menulis dimanapun kalian berada.
gue salah satu dari milyaran manusia yang berdesak - desakan di planet bumi yang mencoba berdiri dan jadi manusia super (seperti wonder woman bahkan :D)
gue bersyukur Tuhan ngasih gue kesempatan buat menghirup nafas dan bertemu berbagai manusia yang akhirnya berarti di hidup gue seperti
ayo tebak siapa orang disamping gue ini, cuma temen kok! #speak ais ya :D
alhamdulilah dan puji syukur sekali lagi terhadap allah swt karena mempertemukan kami dibangku SMA
Dia Luthfi Ramadhan yang memutuskan untuk menjadikan (gue) gadis biasa - biasa ini menjadi salah satu warna dihidupnya semenjak 21 Juni 2009 :)
Semoga gue bisa jadi pendamping dia sampai akhir menghebus nafas............
Masa - masa SMA itu sudah satu setengah tahun berlalu, dan kini gue duduk disini, di kota panas dan lembab jakarta, bersama wanita - wanita diatas. mereka udah jadi bagian dari kisah hidup gue, orang - orang yang udah gue sahabat. makasih buat kalian :) ngasih gue kesempatan buat menjadi salah satu dari kalian.
Ya sekian basa - basi dari gue, semoga apa yang gue tulis bisa sedikit menghibur kalian
Langganan:
Postingan (Atom)